Dalam perjalanan akademik yang penuh tekanan, banyak mahasiswa di STIKES Gorontalo sering kali terjebak dalam fenomena Rasa Tidak Layak Menjadi seorang profesional kesehatan, atau yang secara psikologis dikenal sebagai imposter syndrome. Fenomena ini membuat seseorang merasa bahwa pencapaian mereka hanyalah kebetulan atau keberuntungan semata, bukan hasil dari kompetensi nyata. Bagi calon nakes, perasaan ini sangat menyiksa karena mereka memikul tanggung jawab besar atas nyawa manusia. Jika tidak segera diatasi, keraguan diri yang kronis ini dapat menghambat pengambilan keputusan klinis yang tegas dan merusak kepercayaan diri saat harus berhadapan langsung dengan pasien di rumah sakit.
Poin pertama dalam menghadapi Rasa Tidak Layak Menjadi tenaga medis adalah melakukan normalisasi terhadap perasaan ragu tersebut sebagai bagian dari proses belajar. Mahasiswa di STIKES Gorontalo perlu menyadari bahwa ilmu medis sangatlah luas, dan merasa tidak tahu segalanya adalah hal yang wajar, bahkan bagi dokter spesialis sekalipun. Membicarakan kegelisahan ini dalam forum diskusi atau dengan pembimbing akademik dapat membantu mahasiswa menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Pengakuan akan adanya keterbatasan justru merupakan langkah awal menuju profesionalisme, di mana seorang nakes tahu kapan harus belajar lebih giat atau kapan harus meminta bantuan kolega demi keselamatan pasien.
Langkah strategis dalam Rasa Tidak Layak Menjadi nakes yang kompeten adalah dengan mencatat dan mengakui setiap progres kecil yang telah dicapai. Fokus pada data objektif, seperti keberhasilan melakukan pemasangan infus pertama kali atau nilai ujian yang stabil, dapat membantu menetralisir suara negatif dalam pikiran. STIKES Gorontalo dapat berperan dengan memberikan umpan balik yang konstruktif dan spesifik. Kritik yang membangun jauh lebih efektif untuk mengikis imposter syndrome dibandingkan sekadar pujian kosong, karena mahasiswa butuh bukti nyata bahwa keterampilan mereka memang berkembang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan oleh institusi.
Selain itu, Rasa Tidak Layak Menjadi bagian dari tim medis juga bisa diatasi melalui program pendampingan oleh alumni atau praktisi senior. Mendengarkan cerita bahwa para ahli pun pernah merasakan ketakutan yang sama saat pertama kali turun ke lapangan akan memberikan perspektif yang menenangkan. Mahasiswa harus diajarkan bahwa kompetensi dibangun melalui repetisi dan pengalaman, bukan bakat alami yang muncul secara instan. Keberanian untuk tetap melangkah meskipun merasa takut adalah kunci pembentukan karakter nakes yang tangguh. Kepercayaan diri akan tumbuh seiring dengan bertambahnya jam terbang praktikum di laboratorium maupun di puskesmas.