Di era teknologi yang semakin maju, masyarakat Gorontalo digemparkan oleh fenomena unik namun mengerikan yang dikenal sebagai Pelet Digital. Berbeda dengan praktik tradisional yang menggunakan media benda fisik atau ritual tatap muka, fenomena ini diyakini merupakan pengiriman energi negatif atau penyakit supranatural melalui perantara aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp. Banyak warga yang melaporkan mengalami gangguan kesehatan mendadak setelah menerima pesan atau foto dari orang yang tidak dikenal, menciptakan paranoia baru di tengah masyarakat yang masih memegang kuat kepercayaan terhadap hal-hal metafisika dan kekuatan ilmu hitam.
Kasus Pelet Digital ini sering kali menargetkan korban secara psikologis terlebih dahulu. Pesan-pesan yang dikirimkan biasanya mengandung kalimat ancaman atau gambar-gambar tertentu yang dianggap sebagai medium “pengikat” sukma. Secara medis, fenomena ini sering dikaitkan dengan gangguan psikosomatis, di mana rasa takut dan cemas yang luar biasa memicu manifestasi fisik seperti sesak napas, jantung berdebar, hingga nyeri lambung yang tidak terdeteksi penyebabnya oleh pemeriksaan laboratorium. Namun, bagi masyarakat setempat, ini adalah bentuk evolusi dari santet yang kini memanfaatkan kemajuan infrastruktur telekomunikasi untuk merusak kehidupan orang lain.
Munculnya Pelet Digital juga memicu debat panjang mengenai batas antara teknologi dan kearifan lokal. Beberapa pengobat tradisional di Gorontalo mengklaim bahwa frekuensi gelombang ponsel dapat dijadikan sarana untuk menghantarkan energi jahat secara lebih cepat dan akurat. Fenomena ini menciptakan tantangan bagi para praktisi kesehatan mental dan pemuka agama untuk menenangkan warga agar tidak mudah terjebak dalam rasa takut yang berlebihan. Penanganan terhadap korban biasanya melibatkan terapi spiritual dikombinasikan dengan edukasi literasi digital agar masyarakat tidak sembarangan menanggapi pesan dari orang yang mencurigakan di dunia maya.
Selain aspek mistis, fenomena Pelet Digital juga disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk melakukan pemerasan finansial dengan kedok pembersihan aura atau pengobatan jarak jauh. Masyarakat yang sudah terlanjur ketakutan sering kali bersedia membayar sejumlah uang demi terhindar dari penyakit yang dianggap dikirim lewat WhatsApp tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kerentanan terhadap isu supranatural di era digital dapat menjadi ladang kriminalitas baru yang merugikan secara ekonomi. Perlindungan diri yang paling efektif adalah dengan tetap mengedepankan logika, menjaga privasi data pribadi, dan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan agar tidak mudah terpengaruh oleh intimidasi gaib dalam bentuk apa pun.