Diabetes mellitus yang tidak ditangani dengan baik akan memicu serangkaian kerusakan sistemik pada tubuh, yang dikenal sebagai komplikasi diabetes. Kondisi ini timbul akibat paparan gula darah tinggi (hiperglikemia) secara berkepanjangan yang merusak pembuluh darah kecil dan saraf di seluruh tubuh. Dari kerusakan jantung hingga ancaman kehilangan penglihatan, komplikasi diabetes menjadi peringatan serius akan pentingnya kontrol gula darah yang ketat. Memahami jenis dan dampak dari komplikasi diabetes adalah langkah awal untuk memotivasi pasien agar patuh pada regimen pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Nefropati Diabetik: Ancaman Gagal Ginjal
Salah satu komplikasi diabetes paling merusak adalah nefropati diabetik, yaitu kerusakan progresif pada ginjal. Ginjal bekerja sebagai filter alami tubuh, membersihkan darah dari produk limbah. Kadar gula darah tinggi menyebabkan pembuluh darah kecil (glomerulus) di ginjal menebal dan rusak, mengurangi kemampuan ginjal untuk menyaring darah secara efisien. Awalnya, kondisi ini ditandai dengan kebocoran protein (albumin) ke dalam urine (mikroalbuminuria). Jika dibiarkan, kerusakan ini akan terus berlanjut hingga ginjal kehilangan fungsinya sepenuhnya, yang dikenal sebagai gagal ginjal tahap akhir.
Pada 10 November 2025, dalam simposium nasional nefrologi, Dr. Ahmad Syarif, seorang spesialis penyakit dalam, mengungkapkan bahwa diabetes adalah penyebab utama gagal ginjal di Indonesia, menyumbang lebih dari 40% kasus baru yang memerlukan dialisis (cuci darah). Pencegahan nefropati sangat bergantung pada kontrol gula darah dan tekanan darah yang ketat, serta pemeriksaan urine rutin untuk mendeteksi albuminuria, yang idealnya dilakukan setiap tahun.
Retinopati Diabetik: Penyebab Kebutaan Utama
Mata juga menjadi target utama gula darah tinggi, memicu komplikasi diabetes yang disebut retinopati diabetik. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah halus di retina (lapisan sensitif cahaya di bagian belakang mata) rusak, membengkak, dan terkadang berdarah. Dalam stadium lanjut, pembuluh darah abnormal baru tumbuh sebagai upaya perbaikan, tetapi pembuluh ini rapuh dan dapat menyebabkan jaringan parut yang menarik retina, berpotensi mengakibatkan lepasnya retina dan kebutaan permanen.
Menurut data dari Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) pada 5 Desember 2025, retinopati diabetik adalah penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah pada orang dewasa usia produktif. Mereka merekomendasikan pemeriksaan mata komprehensif tahunan oleh dokter mata bagi semua penderita diabetes, bahkan jika penglihatan terasa normal, karena kerusakan awal seringkali tidak menunjukkan gejala.
Neuropati: Kerusakan Saraf yang Luas
Komplikasi diabetes lainnya adalah neuropati diabetik, yaitu kerusakan pada sistem saraf. Ini sering dimulai di kaki dan tangan (neuropati perifer) dengan gejala kesemutan, mati rasa, atau nyeri. Kerusakan saraf ini membuat penderita rentan terhadap luka yang tidak disadari. Karena sirkulasi yang buruk dan respons kekebalan tubuh yang lambat akibat gula darah tinggi, luka kecil dapat berkembang menjadi infeksi serius, yang pada akhirnya dapat memerlukan amputasi.
Pencegahan komplikasi diabetes ini memerlukan manajemen gula darah, diet yang baik, dan aktivitas fisik teratur. Selain itu, penderita harus secara rutin (misalnya setiap hari Sabtu pagi) memeriksa kaki mereka untuk mencari luka, lecet, atau perubahan kulit. Dengan kepatuhan dan kesadaran tinggi, ancaman kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi dapat diminimalkan.