Anemia akibat kekurangan zat besi masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan bagi masyarakat di daerah pelosok. STIKES Gorontalo menginisiasi program Fortifikasi Makanan lokal yang terjangkau sebagai solusi praktis untuk mengatasi masalah ini. Banyak bahan pangan lokal seperti sayuran hijau dan kacang-kacangan yang sebenarnya kaya nutrisi, namun sering kali kurang diolah dengan cara yang dapat memaksimalkan penyerapan zat besi oleh tubuh. Program ini bertujuan mengedukasi ibu rumah tangga mengenai kombinasi pangan yang tepat untuk meningkatkan asupan zat besi keluarga.
Dalam implementasi Fortifikasi Makanan ini, masyarakat diajarkan untuk mengolah bahan makanan dengan teknik yang mempertahankan kandungan vitamin C, yang berperan penting dalam penyerapan zat besi. Misalnya, mengonsumsi sayuran kaya zat besi bersamaan dengan buah-buahan segar. STIKES Gorontalo bekerja sama dengan kader kesehatan setempat untuk mempraktikkan cara membuat menu harian yang bergizi namun tetap ekonomis. Upaya ini sangat krusial terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan dan ibu hamil, kelompok yang paling rentan mengalami anemia dengan segala dampaknya terhadap perkembangan fisik dan kognitif.
Selain memberikan edukasi, Fortifikasi Makanan lokal juga dilakukan dengan mendorong penggunaan bahan pangan alternatif yang kaya nutrisi namun sering terabaikan. STIKES Gorontalo melakukan penyuluhan mengenai manfaat tempe dan kerang-kerangan sebagai sumber zat besi yang mudah didapat di pasar lokal dengan harga yang sangat bersahabat. Dengan meningkatkan kesadaran akan nilai gizi bahan pangan yang ada di sekitar kita, ketergantungan pada suplemen mahal dapat dikurangi, dan kemandirian gizi keluarga dapat tercipta secara berkelanjutan melalui pemilihan menu yang cerdas.
Pihak STIKES Gorontalo juga rutin mengadakan pemeriksaan kadar hemoglobin bagi warga untuk memantau efektivitas program ini. Data yang terkumpul menunjukkan adanya peningkatan kadar Hb yang signifikan pada kelompok warga yang konsisten menerapkan pola makan yang disarankan. Keberhasilan ini menjadi motivasi besar bagi seluruh tim pengabdian masyarakat untuk terus mengembangkan program edukasi gizi yang lebih luas. Program ini tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga membangun kepercayaan diri warga bahwa mereka mampu menjaga kesehatan keluarga dengan sumber daya yang ada di sekitar mereka.